Sabtu, 26 Mei 2012

Bayang-bayang, cerpen AA Navis

Bayang-Bayang


Si Dali bukan orang biasa. Sudah jadi tokoh. Bahkan tokoh luar biasa. Hidupnya selalu dalam cahaya yang bersinar terang.
Gemerlap dengan warna-warni yang aduhai indahnya. Lebih dari pelakon utama di atas panggung sandiwara.

Karena pelakon Julius Casar, atau King Lear, atau Macbeth hanya gemerlap pada sebatas bidang panggung.
Apalagi bila layar panggung telah turun atau di luar gedung sandiwara para pelakon kembali jadi manusia biasa.
Adakalanya mereka menjadi seperti orang kere yang selesai melakonkan Gatotkaca pada wayang wong masa lalu.
Sedangkan Si Dali berada seperti pada panggung dunia yang tak lagi dibatasi oleh sepadan negara. Kata orang,
Si Dali jadi begitu karena dia tidak pernah hidup dalam kegelapan. Kegelapan malam maupun kegelapan siang.
Artinya dia hidup selalu dalam terang benderang, penuh cahaya.

Makanya Si Dali terus diiringi bayang-bayang. Bayang- bayang yang banyak. Ada yang pendek ada yang panjang,
 ada yang gemuk ada yang kurus. Tentu saja kemanapun dia pergi selalu diiringi bayang-bayang.
Karena memang bayang-bayang itu bayang-bayangnya sendiri.
Sebagai bayang-bayang, bayang-bayang itu senantiasa meniru apa saja yang dilakukan Si Dali.
Baik Si Dali makan atau tidur, jalan-jalan atau berzina.

Tak sekalipun bayang-bayang itu terpisah dari dia. Dan Si Dali yakin benar, bayang-bayang itu ada karena dia.

Tanpa dia, bayang-bayang itu semua sirna. Karena itu semua bayang-bayang memerlukannya. Sangat memerlukannya.
 Berbeda dengan orang lain, yang tidak pernah peduli dengan bayang- bayangnya sendiri.
Karena mereka suka hidup bergelap-gelap di tempat gelap. Seolah-olah bayang-bayang tidak menjadi makhluk penting.
"Bayangkan", kata Si Dali pada bayang- bayangnya sendiri ketika dia lagi nongkrong di closet:
"Jenis manusia apa yang hidup tanpa bayang-bayang, selain manusia gelap yang suka bergelap-gelap?"

Si Dali juga membiarkan bayang-bayang menirukan dengan amat persis apa saja yang dilakukan Si Dali.
 Apa salahnya bilamana semua bayang-bayang itu meniru apa yang dilakukannya. Karena peniruan tidak merugikannya.
 Bagaimana pun persisnya peniruan itu, satu hal yang tidak akan diperoleh bayang-bayang,
 yaitu serba kenikmatan yang diregup Si Dali. "Tirulah oleh kalian serba apa yang aku lakukan,
tapi jangan coba-coba berkhayal akan ikut menikmati apa yang aku regup. Karena serba kenikmatan bukan hak kalian.
 Itulah adalah aksioma."

Kegemerlapan hidup Si Dali yang terang-benderang itu sampai juga ke telinga istana.
 Lalu raja memanggil perdana menteri dan menanyainya.


"Benar, Paduka." jawab perdana menteri, yang tahu benar kemana ujung ceritanya.

"Bunuh dia." perintah raja.

Setelah merenung perdana menteri berkata: "Apa Paduka tidak ingin melihat lebih dulu macam apa Si Dali itu?"

"Kalau begitu tangkap dia. Bawa kesini." kata raja. "Membunuh dan menangkap orang memang kekuasaan Paduka.
Tapi jika dia dibunuh atau ditangkap, dia akan jadi lebih besar dari kadarnya. Dia akan menjadi mitos sejarah.
Dengan mitos itu rakyat terbius untuk berdemonstrasi. Bayangkan, Paduka. Demosntrasi masa ini biadabnya bukan main."

"Maksudmu?"

"Undang dia. Rangkul dia. Supaya Paduka tetap lebih besar dari Si Dali."

"Kalau begitu undang dia. Elu-elukan seperti mengudang gladiator atau artis top." kata raja.

Si Dali bukan tidak berpikir dengan asumsi. Menurutnya dia akan diangkat jadi warga kehormatan negara.
Barangkali sekurang-kurangnya menjadi Perdana Menteri atau Menko seperti yang berlaku di Indonesia.
Tapi jabatan itu membutuhkan lidah yang panjang dari akal. Maka dia akan menolaknya.
 Demikianlah ketika Si Dali sampai di istana, dia disambut oleh barisan pagar ayu yang berdada busung
dan berpantat tonggeng seperti penari jaipong. Ruang istana bermandikan cahaya gemerlap.
Raja dengan pakaian bermanik dan berbintang lapis-berlapis pada kiri-kanan dada, bahkan sampai ke perut buncitnya.
Raja menanti di tengah ruangan yang luas. Begitu megah dan perkasanya raja dilihat oleh Si Dali.
Lebih mempesona daripada raja ketoprak yang dili- hatnya di televisi.

Cahaya lampu yang bersinar marak di ruang itu, tidak memberi bayang-bayang pada raja.
Tapi di dinding penuh berjajaran para pejabat kerajaan dengan isteri masing- masing.
Itulah bayang-bayang raja, pikir Si Dali. Tiba-tiba seluruh lampu meredup.
Lampu sorot dari dinding kiri menyinar tajam ke arah ratu yang muncul di ujung ruang.
Bayang-bayang mengiringi. Raja memperkenalkan Si Dali kepada ratu. Si Dali membungkuk ketika bersalaman.
Tapi bayang-bayang Si Dali seperti memeluk erat bayang-bayang ratu. Keduanya jatuh bergumul di lantai.
 Si Dali memandang berkeliling. Di sepanjang dinding terlihat seperti bayang-bayang hitam, yang seperti menatap ketiga
orang yang berada di tengah ruang. Ketika semua lampu menyala kembali, Si Dali tidak melihat bayang- bayangnya.
Bayang-bayang ratu pun tidak. Sampai pulang pun bayang-bayangnya tidak mengikutinya.
Dan ketika dia menyalakan lampu di ruang tamunya, dia melihat bayang-bayang raja yang bertubuh buntal duduk
mengalai di sofa.

"Kamu bukan bayang-bayangku." kata Si Dali. "Mestinya kamu bersama raja. Mengapa kamu di sini?"

"Aku kesal. Muak. Sakit hati. Raja punya banyak bayang-bayang. Semuanya berlidah panjang.
Sehingga aku yang setia sejak waktu lahirnya, tidak diperdulikan lagi." kata bayang-bayang raja itu.

"Terus?"

"Ketika aku lihat bayang-bayang kamu mengikuti bayang- bayang ratu, sehingga kamu kehilangan bayang-bayang kamu sendiri,
aku pikir kebih baik aku ikut kamu. Karena kamu toh perlu bayang-bayang.
Aneh bin ajaib kalau seorang tokoh seperti kamu tidak punya bayang-bayang." kata bayang-bayang itu.


Sebagai seorang tokoh besar yang senantiasa punya gagasan diluar jangkauan manusia kebanyakan.
Kemudian Si Dali menawarkan pergantian posisi kepada bayang-bayang raja.
Dia jadi bayang-bayang raja dan bayang-bayang raja jadi dia. "Kamu ingin jadi bayang-bayang raja?"
 tanya bayang- bayang itu.

"Oh, tidak. Sampai mati pun aku tidak mau. Aku cuma mau menyamar jadi kamu. Selama satu hari saja. Oke?"

"Oke."

Sebagai bayang-bayang, Si Dali begitu leluasanya masuk istana yang berlapis-lapis pengawalannya.
 Leluasa pula memasuki seluruh ruang yang banyak dan beragam-ragam disain dalam istana itu.
Semua megah, bahkan spektakuler. Ada ruang seperti yang ditemui dalam film Star Trek.
Ada yang seperti taman dalam film The Last Day of Pompeye. Namun tidaklah begitu menakjubkan mata Si Dali.

***

Ketika Si Dali yang lagi menyamar dalam bentuk bayang- bayang raja memasuki Ruang Sidang Kabinet,
kabinet lagi bersidang dibawah pimpinan perdana menteri. Persis di waktu perdana menteri sedang berkata:
"Nah, Tuan-Tuan sudah tahu, macam apa tokoh yang bernama Si Dali. Dia krempeng seperti Nashar. slebor seperti Affandi.
Matanya melotot seperti.....seperti.....siapa, ya?" Sejenak dia terdiam ketika ingat pada seorang presiden,
yang dirasanya tidak etis kalau diucapkan. Selanjutnya katanya lagi: "Ya, seperti Picasso bila mengambil contoh maka pelukis.
 Dia jadi tokoh karena sering, sangat sering, dipublikasi oleh pers dan televisi.
Pidato atau khotbah atau ucapannya se- ring dikutip, puisinya dinyanyikan dalam berbagai pertunjukan sastra dan musik.
 Apa tidak begitu?"

"Dia tidak akan jadi apa-apa kalau tidak ada pers dan televisi. Makanya tidak bisa dibandingkan dengan raja.
Raja tetap jadi raja, meski tidak ada publikasi." kata seorang menteri.

"Baiknya, larang saja pers dan televisi mempublikasikannya." usul menteri yang lain.

"Larang-melarang itu sudah kuno. Tidak cocok dengan semangat reformasi." kata perdana menteri pula.

"Kalau begitu, imbangi dengan banyak-banyak mempublikasikan raja?" usul yang lain lagi mengusul.


"Seperti kita semua tahu, raja tidak punya kegiatan apapun yang berharga untuk dipublikasikan.
Apa pantas raja sedang makan, sedang tidur dipublikasikan?"

"Sekali lagi saya peringatkan. Pakailah bahasa yang baik dan benar ke alamat raja. Raja tidak makan,
tapi santap. Tidak tidur, tapi beradu. Tidak sakit, tapi gering. Tidak minum, tapi dahar.
Tidak berbaju, tapi.....Tapi apa, ya? kata perdana menteri dengan sedikit keras.

"Kalau begitu raja tidak akan pernah mati, ya?" bisik seorang menteri kepada rekannya di sebelah kiri.

"Memang. Tapi wafat," jawab yang ditanya.

"Untuk hal-hal yang sakral atau dipandang sakral perlu menggunakan bahasa kuno, seperti kebiasaan orang Indonesia yang
memakai bahasa Sanskerta yang kuno untuk menamakan bangunan baru yang disakralkan,"
kata menteri yang duduk di kanan  menyela.

"Jadi masalah Si Dali itu apa, sih?" tanya menteri yang mengenakan seragam jenderal dengan segala asesori tanda jasanya.

"Si Dali terlalu termasyhur. Populer. Lebih dari raja." jawab perdana menteri. "Itu membahayakan kredibilitas kerajaan."

"Raja sendiri berpendapat apa?"

"Tidak ada pendapatnya karena memangnya raja tidak punya suatu alat untuk berpikir."

"Nah, kalau raja sendiri tidak perduli, kenapa kita ribut?"

"Apa kata dunia internasional, apabila raja sudah begitu, tapi para menteri diam saja? Dunia internasional akan
mengatakan kita semua goblok," kata perdana menteri dengan nada yang agak tajam.

Pada saat semua anggota kabinet saling memandang oleh kebingungan, Si Dali melompat ke tengah ruangan.
Katanya setengah berteriak: "Kabinet macam apa ini. Bicara tentang kepentingan diri sendiri.
Bicarakanlah tentang nasib rakyat yang setiap tahun dilanda banjir atau kebakaran hutan.

Setiap waktu kena peras, kena tipu atau rampok atau ditembak oleh oknum-oknum bersenjata.
Keadilan dimafia aparat, sejak polisi sampai jaksa, terus ke hakim. Anggota dewan minta disuapi supaya program pemerintah
 disetujui."

Tapi anggota kabinet itu tidak ada yang acuh. Mereka masih terus berbicara dengan sesamanya.
Padahal menurut Si Dali, dia telah bicara setengah berteriak sambil mengedari ruang di tengah-tengah persidangan itu.
Tiba-tiba dia sadar pada dirinya yang tengah menjelma jadi bayang-bayang raja. Dengan berlari kencang dia kembali ke
rumahnya untuk membebaskan dirinya dari bayang-bayang raja. Untuk kembali menjelma ke jati dirinya sendiri.

Selama berlari Si Dali berkata pada dirinya: "Bayang- bayang tetap bayang-bayang. Meski bayang-bayang raja sekalipun,
 tidak ada yang hirau. Para menteri raja pun tidak hirau. Kalau bayang-bayang raja tidak diacuhkan orang, apa peduliku.
Tapi pada bayang-bayang raja ini ada aku. Mengapa mereka tidak peduli?"


Dalam berlari Si Dali terus bebicara pada dirinya sendiri. Kadang-kadang dia bertanya, kadang-kadang mengomel.
Adakalanya juga dia memaki dan berteriak-teriak marah. Akhirnya dia marahi dirinya sendiri, yang mau menyamar sebagai
bayang-bayang, meski bayang-bayang raja. Tiba-tiba larinya melambat dan terus melambat.
Di bawah naungan mahoni yang tumbuh berderet di sepanjang jalan dia mulai terenung.
Dalam renungannya kian menjadi jelas baginya, bahwa bayang-bayang akan selamanya jadi bayang-bayang.
 Bayang-bayang raja tetap bayang-bayang raja. Kalau raja mati, meski bayang-bayangnya tidak ikut dikubur,
 dia tidak lagi berfungsi. Yang berfungsi ialah bayang-bayang raja pengganti. Bayang-bayang raja lama lenyap.
"Kalau saat ini raja pemilik bayang-bayang ini mati, apa jadinya aku?"

Sambil berlari kencang sepanjang jalan ke rumahnya, Si Dali berteriak keras: "Aku tidak mau lenyaaap.
Tidak mau lenyaaap."

*** Sampai di rumah ternyata pintu rumah ternganga. Di dalam semuanya hitam. Tidak satupun lampu yang nyala atau
cahaya yang masuk. Tapi dia tahu persis letak sesuatu benda atau ruang demi ruang. Meski berlari tidak satu benda
pun tersenggol. Meski tersenggol, oleh karena bayang-bayang tidak akan menggeser, apalagi merusak.
Maka dia langsung menghambur ke kamar tidurnya, yang ketika pergi dulu sebagai bayang-bayang raja.
dirinya lagi mengalai di ranjang.


Tapi Si Dali tidak menemui dirinya di sana. Lalu dicarinya dengan perasaan cemas ke seluruh ruang yang gelap itu.
Betapa seluruh ruang telah diarungi, betapa lama waktu dalam menyigi, dia tidak menemui dirinya. Simpul hatinya,
dirinya yang dipakai bayang-bayang raja pasti sudah keluar rumah pergi bertualang dalam kehidupan yang nyata.
Tapi kemana dia? Dia telusuri seluruh jalan dan pelosok kota sampai ke sudut-sudut yang kumuh pun dia cari.
Dia tidak tahu sudah berapa lama dia berkelana. Entah berapa hari, entah berapa malam.

Akhirnya, ketika rasa putus asa telah sampai ke ujung hidupnya, dia melihat seorang laki-laki kere.
Duduk terkulai di bangku dalam taman luas Lapangan Merdeka di pusat kota. Laki-laki itu kurus kerempeng.
Lusuh dan mengenas- kan. Laki-laki itu tidak lain dari dirinya yang jelmaan bayang-bayang raja.
Sebagian hati Si Dali demikian gembira karena telah menemukan kembali jati dirinya.
Tapi sebagian lain hatinya demikian risau. Dia melihat dirinya yang dipakai orang lain.
Tak obahnya seperti lusuh baju dipakai oleh bukan pemiliknya sendiri.
Sampai dia ragu sejenak, apa memang itu Si Dali yang sosok paling populer di masa itu.

"Hai, Dali. Kemana saja kamu. Berhari-hari aku telah mencarimu." kata Si Dali pada dirinya yang
disandang oleh bayang-bayang raja itu.

"Aku? Aku mencoba menikmati hidup di dunia nyata seperti manusia.
Aku kira meski aku palsu akan lebih baik daripada bayang-bayang. Tapi tidak satu pun nikmat yang aku dapat.
" kata bayang-bayang raja yang memakai tubuh Si Dali. "Kemudian aku yakin, bahwa aku hanya bayang-bayang.
Tidak mungkin hidup sebagai manusia yang utuh. Lalu aku mencari kamu untuk bertukar tempat kembali,
agar aku bisa hidup menurut kodratku sendiri. Berhari-hari aku mencari kamu. Kemana saja kamu?"

"Aku juga mencari kamu agar aku bisa kembali ke duniaku lagi." kata Si Dali.

"Terlambat sudah."

"Terlambat?"


"Raja sudah Wafat. Di kubur atau di neraka raja tidak perlu bayang-bayang. Bagaimana aku kembali jadi diriku,
sebagaimana kamu bisa kembali jadi jati dirimu? Akan jadi apa aku dengan tubuhmu. Tidak akan jadi apa-apa, tahu?"
 kata bayang-bayang raja yang mamakai jasad Si Dali. Terasa mengenaskan suaranya.

"Ayo, kita berganti jadi jati diri kita sendiri lagi." kata Si Dali.


"Aku mau. Tapi tak mungkin aku kembali jadi bayang- bayang raja karena raja sudah wafat."

"Artinya?"


"Tidak mungkin itu. Sebagai Si Dali kau telah kehilangan bayang-bayangmu sendiri. Bayang-bayangmu takkan kau
 peroleh lagi karena dia lebih suka hidup di istana." "Maksudmu?"


"Ya, setiap bayang-bayang berbakat demikian."


"Aku tidak perlu bayang-bayang. Aku hanya perlu diriku sendiri."


Lawan Si Dali menggelengkan kepala. "Kau tidak berarti apa-apa tanpa bayang-bayang."

"Sekarang aku ini jadi apa?" tanya Si Dali yang bayang- bayang.

"Mendingan dari aku yang jadi manusia palsu." kata ba yang-bayang yang jadi Si Dali.

Si Dali yang perjalanan hidup pernah gemerlapan begitu terpana dan terus terpana entah sampai apabila dan hingga kemana.

Angin dari Gunung, cerpen AA Navis

Angin Dari Gunung

Sejauh mataku memandang, sejauh aku memikir, tak sebuah jua pun mengada. Semuanya mengabur, seperti semua
 tak pernah ada. Tapi angin dari gunung itu berembus juga. Dan seperti angin itu juga semuanya lewat tiada berkesan.
Dan aku merasa diriku tiada.

Dan dia berkata lagi. Lebih lemah kini, "Kau punya istri sekarang, anak juga. Kau berbahagia tentu."

"Aku sendiri sedang bertanya."

"Tentu. Karena tiap orang tak tahu kebahagiaannya. Orang cuma tahu kesukarannya saja."

Dan dia diam lagi. Kami diam. Angin dari gunung datang lagi menerpa mukaku. Dan kemudian dia berkata lagi.
 "Sudah lima tahun, ya? Ya. Lima tahun kawin dan punya anak."
Aku masih tinggal dalam diamku. Aku kira dia bicara lagi.

"Kau cinta pada istrimu tentu."

"Anakku sudah dua."

"Ya. Sudah dua. Kau tentu sayang pada mereka. Mereka juga tentunya. Dan kau tentu bahagia."

Dia berhenti lagi. Lalang yang ditiup angin bergelombang menuju kami. Lalu angin menerpa mukaku lagi.
Dan aku merasa. ketiadaanku pula. Angin pergi.

"Kau ingat, Har?"

"Apa?" kutanya dia dengan gaya suaranya.

"Sembilan tahun yang lalu."

"Ya. Aku masih ingat. Tapi itu sudah lama lampaunya."

"Ya. Sudah lama. Aku tak pernah mau mengingatnya. Tapi kini aku ingat lagi." Dia diam lagi.
Dan memandang jauh ke arah gunung itu. "Ketika itu seperti macam sekarang. Kita duduk seperti ini juga.
 Tapi tempatnya bukan di sini. Aku masih ingat, sekali kau menggenggam jariku erat sekali.
Aku biarkan dia tergenggam. Dan dalam tekanan genggamanmu, aku tahu kau mau bicara.
Dan aku menunggunya. Tapi kau tak berkata apa-apa."

"Masa itu, masa kanak-kanak kita," kataku. Tapi cepat kemudian aku jadi menyesal telah mengatakannya.

"Ya," katanya dengan suara tak acuh. "Jari-jariku itu sudah tak ada lagi kini. Kedua tanganku ini, kaulihat?
Buntung karena perang. Dan aku tak lagi dapat merasa bahagia seperti dulu. Biar kau menggenggamnya kembali.
 Mulanya aku suka menangis. Menangisi segala yang sudah hilang. Tapi kini aku tak menangis lagi.
Tak ada gunanya menangisi masa lampau. Buat apa?"

Aku jadi sentimental dan hatiku berteriak, meneriakkan seribu kenangan yang datang mengharu biru.
 Kucoba membuang segala kesenduan, tapi aku menjadi tambah tenggelam olehnya.
Dan angin meniup lebih syahdu terasa. Serasa ada nyanyian iba besertanya.

"Tak ada gunanya," katanya lama kemudian. Dan aku menunggu dia bicara lagi.
Tapi itu saja yang dikatakannya. Tak diteruskannya. Kedua tangannya yang buntung itu diacungkannya ke depan,
 disilangkan, lalu digesek-gesekannya. Melihat itu, aku mau tersedu. Tersedu seperti ketika pusara Ibu mau ditimbuni.

"Kau punya anak, punya istri. Dari itu kau punya pegangan hidup, punya tujuan minimal.
Tapi yang terpenting kau punya tangan. Hingga kau dapat mencapai apa saja yang kaumaui.
Sebagai suami, sebagai ayah, sebagai laki-laki, sebagai manusia juga, seperti yang kita omongkan dulu,
 kau dapat mencapai sesuatu yang kauinginkan. Alangkah indahnya hidup ini, kalau kita mampu berbuat apa yang kita inginkan.
 Tapi kini aku tentu saja tak dapat berbuat apa yang kuinginkan. Masa mudaku habis sudah ditelan kebuntungan ini."

Dan tangan itu diturunkannya lagi. Dia memandang lebih jauh melampaui balik gunung dari mana angin meniup.
Kala itu aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
 Sebuah ucapan yang indah dan memberi semangat seperti dulu sering kuucapkan untuk anak buahku di front Barat.
Tapi bagaimana aku dapat mengatakan, kalau semangat itu sendiri telah kulemparkan jauh-jauh pada suatu ketika.

"Dulu aku cantik juga, bukan?" katanya pula. "Bahkan tercantik di front Barat itu. Aku tahu semua orang mau menarik perhatianku.
 Semuanya mau mati-matian dan bekerja berat di depanku. Semuanya mau berjuang membunuh musuh demi mendekatiku.
Tapi keitika musuh datang, aku kebetulan tak ada disana, mereka habis lari kehilangan keberanian.

Kalau pemimpin yang datang di front, di waktu tak ada perempuan, aku menjadi sibuk.
Aku diminta mengatur tempat tidur mereka. Dan ketika mereka mau pergi, dicarinya aku dulu.
Dijabatnya tanganku erat-erat. Dan di ucapkannya kata-kata yang indah berisi keharuan.
 'Kami atas nama pemerintah dan seluruh pemimpin perjuangan revolusi kemerdekaan mengucapkan terima kasih kepada Saudari.
Kami sangat merasa bangga dengan adanya patriot wanita seperti Saudari,
yang selamanya menyediakan waktu untuk memberi semangat kepada prajurit kita.
Kami juga yakin, kalau Saudari tak di sini, tentu front ini sudah lama di duduki musuh.'

Begitulah. Kalau ada orang sakit, aku juga yang merawatnya.
 Dan di waktu malam-malam yang damai, mereka minta hiburan.
 Aku bernyanyi. Mereka memetik gitar. Dan mereka dapat melupakan segala hal-hal yang menekan.
Dan waktu itu, aku sering merasa jumlah tanganku yang masih kurang. Aku mau tanganku lebih banyak lagi.
Kalau boleh sebanyak jari ini.

Tapi sekali pernah juga aku berpikir-pikir, bahwa hidup seperti itu tidaklah akan selamanya berlangsung.
 Suatu masa kelak akan berakhir juga. Dan kalau perang sudah selesai, aku ingin bersekolah lagi.
Sekolah apa? aku tak tahu. Yang aku tahu Cuma, tambah banyak ilmu, tambah banyak yang dapat diperbuat. Ya, itulah semua."

Satu demi satu ucapannya bercekauan dalam hatiku. Dan kini kumandangnya lebih menyayat terasa, lebih menusuk.
Aku jadi tak berani mengangkat kepalaku. Makin lama kian terkulai keseluruhan adaku di dekatnya.

Matahari ketika itu sangat cerahnya. Bayangan pohon manggis bertelau-telau pada rumput hijau.
Dan di kiriku dia duduk mengunjurkan kakinya. Kaki itu kaki yang dulu juga. Kaki yang pernah menggodaku.
Sekarang kaki itu terhampar begitu saja. Dan aku tak dapat memandangnya lama-lama,
 karena kaki itu tidak berbicara apa-apa lagi bagiku kini. Dan perasaanku tidak seperti dulu lagi.
Justru itulah yang menyebabkan aku merasa dipilukan perasaanku sendiri. Hendak kuelus hatinya,
 hendak kuceritakan sejarah hidup Helen Keller. Bahkan hendak kukatakan juga, bahwa aku mau memeliharanya.
Memelihara dia? Tidak. Dan aku sudah punya dua anak. Agus dan Hafni. Ketika aku sadar jalan itu buntu,
aku menyesali diriku sendiri. Juga menyesali segala yang sudah terjadi. Dan aku tak bisa berdoa untuknya.
Doa serasa tak berharga kini. Tiap-tiap orang punya doa. Dan doa sekadar doa, tak ada gunanya.
Maka aku merasa segalanya jadi terbang.

"Apa yang kaupikirkan?" tanyanya tiba-tiba.

Aku jadi gugup dan tersentak dari keterbanan perasaanku. Dan aku katakan, bahwa aku sedang memikirkannya.

"Masa dipikirkan lagi," katanya. "Apa perlunya? Semua sudah sewajarnya, bukan?"

"Apa?" tanyaku ragu-ragu.

"Kau memikirkan aku, kan?"

"Tidak setepat itu benar. Aku sedang memikirkan apa yang hendak kulakukan."

"Untuk apa?"

"Untukmu."

"Sia-sia saja."

Tiba-tiba kuingat pada pusat rehabilitasi di Solo. Dan lalu kukatakan kepadanya. Lama ia terdiam,
dan matanya seperti melangkaui segala apa yang dapat dilihatnya.

"Bagaimana? Setuju? Kalau kau setuju jangan kaupikir apa-apa. Aku yang uruskan semua."

Tapi dia masih tiada memberi reaksi. Dan aku mendesak lagi.

"Kalau perlu ...Ah, tidak, Aku sendiri yang akan mengantarkan kau. Barangkali tidak lama kau di sana,
kau sudah bisa pulang lagi. Dan selanjutnya kau sudah bisa berbuat sesuatu lagi, seperti dulu."

Lalu ia memandang padaku. Dan tersenyum. Tapi senyumnya ini menusuk hatiku. Aku jadi gugup.

"Mengapa kau tersenyum?" tanyaku dalam kehilangan keseimbangan diriku.

"Mungkinkah orang seperti aku ini dapat berbuat sesuatu?" tanyanya dengan suara yang lain sekali bunyinya. Begitu pahit.

Dan aku jadi ragu-ragu untuk meyakinkannya lagi. Lalu aku pura-pura tak mendengarkan apa katanya.
 Aku beri dia semangat yang bernyala-nyala, yang aku sendiri pada dasarnya sudah tak percaya akan semangatku sendiri.
 Dan dia tahu itu rupanya. "Kau sendiri tak yakin dengan ucapanmu. Bagaimana mungkin aku meyakinkannya?" katanya.

"Tapi sedikitnya, kau lebih bisa berbuat banyak nantinya."

"Ya. Tentu saja. Seperti juga dulu, kan? Seperti dulu, seolah-olah kalau tidak ada aku, semuanya seperti tidak akan sempurna,
 semua pekerjaan seolah takkan selesai. Semua orang memerlukan tenagaku. Semua orang jatuh cinta padaku.
Semua orang haus akan segala yang ada padaku. Tapi setelah itu, setelah itu apa lagi?"

Aku tak merasa terpaan angin dari gunung itu lagi. Yang kurasakan terpaan ucapannya pada mukaku,
 karena terasa sebagai umpatan yang pahit tapi dicelup dengan tengguli.

"Kau kasihan padaku, bukan?"

"Kenapa tidak?"

"Ya. Tentu saja kau kasihan padaku. Karena kau merasa berdiri di tempat yang sangat tinggi, sedang aku jauh di bawahmu.
 Lalu dari tempat yang itu, kau memandang kepadaku, 'Oh, alangkah kecilnya kau, Nun, katamu'."

Aku mau membantah. Tapi sebelum aku dapat memilih kata, dia berkata lagi. "Seperti tadi saja.
Kalau bukan aku yang menyapamu, kau takkan tahu siapa aku, bukan? Sedang mata pertamamu melihat aku tadi,
 kau seolah melihat pengemis yang dijijiki. Alangkah cepatnya segalanya berubah. Dan lebih cepat lagi seseorang melupakan seseorang lainnya, meski pernah orang itu dicintanya."

Aku ingin memandangnya tepat, hendak mencoba menyatakan bahwa segalanya mempunyai alasan-alasan tertentu.
 Ingin aku menentang matanya, hendak meyakinkannya, seperti pernah kulakukan dulu kepadanya.

"Meski bagaimana, aku tahu kau baik," katanya lagi.

"Ni Nun, Uni Nuuun," tiba-tiba seorang gadis kecil memanggil-manggil.
Dan panggilan yang tiba-tiba itu mencairkan impitan yang memberat antara kami.

"Ke mana Uni Nun? Melalar saja. Tidak tahu dibuntung awak,
" gadis kecil berkata lagi sambil memandang padaku dengan curiga dan kebencian.
Aku jadi kaget, kalau gadis kecil semanis ini bisa bertingkah begitu terhadap Nun.
Inikah lingkungan hidup Nun, pikirku. Di mana sedari kecil anak-anak telah memandang Nun sebagai manusia tak berguna,
 manusia yang sial. Kupandang wajah Nun yang berubah-ubah.
Tapi cepat-cepat disembunyikannya wajahnya itu dari pandanganku.

"Nenek memanggil. Cepatlah!" gadis itu memamer lagi.

"Tolong tegakkan aku. Aku mau ke Nenek," Nun berkata padaku dengan suara dalam lehernya.
 Dan kutolong dia berdiri. Tapi waktu itu aku jadi sentimental lagi, melebihi tadi.

"Nenek sudah tua benar. Sudah lupa segalanya. Selain aku. Dan kalau aku tak di dekatnya,
Nenek merasa kehilangan nyawa," katanya pula dan lalu pergi meninggalkan aku yang tercenung.
 Ketika ia mau membelok ke arah jalan raya, dia membalikkan badannya lagi ke arahku dan berkata pula.
"Nenek tak bisa berpisah denganku. Antara kami berdua ada perpaduan nasib.
Dan Nenek ingin hidup lebih lama, karena dia tak hendak membiarkan aku hidup sendirian."

Dia melangkah lagi. Tapi sebentar kemudian dia memaling lagi dan berkata, "Tapi kalau Nenek sudah tak ada lagi,
aku juga tidak memerlukan apa-apa pula."

Lalu dia melangkah. Tapi sebelum dia hilang di balik belukar yang bergoyang ria ditiup angin dari gunung itu,
kukatakan kepadanya, "Besok aku datang lagi ke sini, Nun."

Tapi dia tidak menoleh lagi. Hilang di balik belukar itu. Dan belukar itu bertambah ria menari ditiup angin dari gunung.
 Angin dari gunung yang meniup belukar hingga bergoyang dan menari ria itu, angin itu juga yang meniup aku, meniup Nun,
dan meniup gadis kecil itu.

Balikui , Cerpen: Putu Wijaya


Balikui
Cerpen: Putu Wijaya
Sumber: Suara Pembaruan, Edisi 11/03/2002
Di hadapan sekitar tiga ratus mahasiswa di Hunter College, New York, Wayan harus bercerita tentang Bali. Claudia Orenstein, pengajar teater Asia di perguruan tinggi negeri itu, meminta Wayan tampil sekitar satu jam. "Boleh ngapain saja. Menari, menyanyi, menjelaskan sesuatu, membaca cerpen, yah apa sajalah, asal Bali," kata Claudia. Wayan jadi ngeper. Pertama bahasa Inggrisnya berantakan.
Membaca ia bolehlah, tetapi berbicara di depan orang-orang yang berbahasa Inggris, ia bisa mati kutu. Di samping itu, apa yang mesti diceritakannya tentang Bali. Dalam daftar buku wajib para mahasiswa tercantum buku yang sudah komplet menjelaskan Bali. Di antaranya buku Kaja-Kelod yang ditulis oleh Doktor I Made Bandem dan Doktor Fritz de Boer. Beberapa malam Wayan nyap-nyap. Ia mencoba membongkar-bongkar slide yang dibawanya. Itu bisa mengisi waktu sekitar seperempat jam. Kemudian mungkin ia akan memutar video pertunjukan sendratari Ramayana, kecak dance atau legong keraton.
Selanjutnya ia dapat menunjukkan beberapa gerakan tari Bali. Sisanya menjawab pertanyaan kalau ada. Tapi begitu berdiri di podium, melihat ratusan pasang mata menatapnya, ia jadi kelengar. Tidak hanya mata Amerika, juga ada mata Hong Kong, Jepang, Thailand, Filipina, bahkan terselip satu dua mata orang Indonesia. Rencana Wayan buyar. Semuanya berantakan.
"Saya minta maaf karena bahasa Inggris saya, bahasa hancur lebur. Tetapi barangkali karena itu saya terpilih berbicara di depan Anda semua. Karena paling tidak saya bisa menjadi tontonan konyol," kata Wayan membuka kelas

Balikui
Cerpen: Putu Wijaya
Sumber: Suara Pembaruan, Edisi 11/03/2002
Di hadapan sekitar tiga ratus mahasiswa di Hunter College, New York, Wayan harus bercerita tentang Bali. Claudia Orenstein, pengajar teater Asia di perguruan tinggi negeri itu, meminta Wayan tampil sekitar satu jam. "Boleh ngapain saja. Menari, menyanyi, menjelaskan sesuatu, membaca cerpen, yah apa sajalah, asal Bali," kata Claudia. Wayan jadi ngeper. Pertama bahasa Inggrisnya berantakan.
Membaca ia bolehlah, tetapi berbicara di depan orang-orang yang berbahasa Inggris, ia bisa mati kutu. Di samping itu, apa yang mesti diceritakannya tentang Bali. Dalam daftar buku wajib para mahasiswa tercantum buku yang sudah komplet menjelaskan Bali. Di antaranya buku Kaja-Kelod yang ditulis oleh Doktor I Made Bandem dan Doktor Fritz de Boer. Beberapa malam Wayan nyap-nyap. Ia mencoba membongkar-bongkar slide yang dibawanya. Itu bisa mengisi waktu sekitar seperempat jam. Kemudian mungkin ia akan memutar video pertunjukan sendratari Ramayana, kecak dance atau legong keraton.
Selanjutnya ia dapat menunjukkan beberapa gerakan tari Bali. Sisanya menjawab pertanyaan kalau ada. Tapi begitu berdiri di podium, melihat ratusan pasang mata menatapnya, ia jadi kelengar. Tidak hanya mata Amerika, juga ada mata Hong Kong, Jepang, Thailand, Filipina, bahkan terselip satu dua mata orang Indonesia. Rencana Wayan buyar. Semuanya berantakan.
"Saya minta maaf karena bahasa Inggris saya, bahasa hancur lebur. Tetapi barangkali karena itu saya terpilih berbicara di depan Anda semua. Karena paling tidak saya bisa menjadi tontonan konyol," kata Wayan membuka kelas.
Para mahasiswa langsung tertawa berderai. Wayan terkejut. Ia tambah kecut hati, karena pengakuan jujurnya ditertawakan. "Waduh saya jadi grogi, maaf mungkin saya harus permisi ke belakang dulu," kata Wayan sambil menoleh kepada Claudia yang ikut duduk di deretan mahasiswa, menembakkan kamera untuk dokumentasi. Para mahasiswa tertawa lebih keras.
Wayan jadi bingung. Akhirnya ia nekat. "Tapi kalau saya ke belakang, saya takut Anda ikut semua. Jadi lebih baik saya tahan saja, mudah-mudahan saja tidak kebablasan di sini di depan Anda." Para mahasiswa semakin seru ketawa. "Maaf saya tidak melucu." Beberapa mahasiswa bertepuk tangan gembira. "Lho sungguh. Sebagai orang Bali, saya tidak pintar berbicara, apalagi dalam bahasa Inggris. Terus-terang, sebenarnya tak ada yang perlu saya bicarakan kepada Anda. Anda sudah tahu semuanya.
Coba apa yang tidak Anda ketahui? Tidak ada. Justru yang tidak saya ketahui, banyak sekali. Misalnya, lho kenapa Anda semua harus mendengarkan cerita orang yang tidak tahu seperti saya. Sebetulnya saya yang lebih pantas mendengarkan cerita Anda. Orang Bali yang harus banyak belajar dari orang Amerika." "Lihat saja dari kepala sampai ke kaki, saya sudah mencoba jadi orang Amerika. Saya memakai celana jins buatan Amerika. Sweater saya ini juga saya beli di loakan di sini. Dan tadi saya baru makan Burger King. Apalagi saya sekarang mencoba bicara dalam bahasa Inggris yang membuat saya sudah stres selama satu minggu. Tapi saya kok jadi tambah Balikui rasanya. Lucu kan?" Wayan tertawa, menyangka apa yang dikatakannya lucu.
Tapi tak ada mahasiswa yang ikut tertawa. Wayan jadi berkeringat. "Ya, terus terang saya sudah habis-habisan mencoba menjadi orang Amerika. Tetapi sudah dua bulan di sini, makan, berpakaian, berbicara dan hidup seperti orang New York, tetap saja saya tidak pernah bisa berhasil jadi orang Amerika. Ternyata sekali saya lahir sebagai orang Bali,
saya sudah dikutuk jadi orang Bali. Apa pun yang saya coba lakukan, berbohong atau menipu sekali pun, tetap saja masih bernapas, berjalan, berpikir, bekerja, tidur, pacaran, bahkan berak sekalipun, saya tetap berak orang Bali." Para mahasiswa tertawa. Wayan kembali heran.
"Jadi bukan pakaian, bukan makanan, bukan juga pikiran yang membuat saya menjadi orang Bali, tapi takdir. Dan saya tidak bisa memilih takdir. Saya dipilihkan. Saya pernah mencoba mengusut apa saja takdir saya itu yang menjadikan saya berbeda dengan Anda semua orang Amerika, termasuk juga Anda yang berasal dari belahan dunia yang lain. Tapi saya tidak berhasil menemukan jawabannya. Saya hanya punya contoh. Waktu saya mendarat pertama kali di Amerika, bahkan datang pertama kali di New York sini, selama satu minggu, bahkan sampai satu bulan saya sulit membedakan kalian satu sama lain.
Nampaknya kalian orang Amerika sama semua. Padahal rambut, tinggi, potongan badan, kelakuan, pakaian, nama serta usia dan watak kan lain-lain. Tapi sebaliknya juga terjadi pada turis Amerika yang datang ke Bali. Selama satu minggu atau sebulan, semua orang Bali buat mereka sama. Wayan semuanya.
Jadi kalau begitu, pertanyannya adalah: apa yang sama pada semua orang Bali?" Beberapa orang mahasiswa bergerak, siap menulis di atas catatannya. "Maaf jangan ditulis, jangan percaya pada saya, siapa tahu saya bohong atau menipu kalian," kata Wayan. Para mahasiswa tertawa cekakan.
Wayan kembali berkeringat. "Orang bilang, orang Bali itu balikui," lanjut Wayan, "artinya lugu, polos begitu. Dalam bahasa Inggrisnya apa ya? Apa ya Claudia?" Claudia mengucapkan satu kata. Tapi Wayan tak mendengarnya. Namun para mahasiswa mencatat. "Banyak orang mencoba belajar kesenian Bali, tari Bali, gamelan Bali dan sebagainya, dengan meniru pakaian, langkah, gerak dan agemnya," kata
Wayan menyambung, "tetapi meskipun secara matematika sudah persis, benar begitu, selalu saja hasilnya kaku. Belajar gamelan dan tari Jawa juga sama saja begitu. Tidak pernah pas. Kadang berlebih-lebihan, kadangkala kurang. Masalahnya, saya kira karena mereka mencoba mendekati dari bentuknya. Ya tidak akan pernah klop. Karena itu, mempelajari Bali, mengajarkan Bali, sebaliknya juga mempelajari Amerika dan mengajarkan Amerika, yang selama ini dimulai dari bentuknya saja, harus dihentikan. Takdirnyalah yang harus dipegang. Baru kalau itu dipahami, tanpa belajar pun Anda semua bisa menjadi penari Bali, dan tahu tentang Bali." Claudia memberi isyarat pada Wayan dengan menunjuk jam tangannya, tanda waktu sudah berlalu. Para mahasiswa berdiri siap-siap untuk pergi.
Wayan kontan berkeringat. "Lho, saya belum sempat lagi mulai, kok waktunya keburu habis? Ya sudah, maaf saja, sekian dulu," kata Wayan menyesal, sambil memandang Claudia seperti orang kalah perang. Para mahasiswa bertepuk tangan.
Jakarta, 17-5-02

Minggu, 20 Mei 2012

Perindu surga


Perindu surga

Yang aku cari adalah sebuah masa depan
Walau aku tahu itu di ujung asa
Satu asa
Bergantung kepada Yang Maha Esa

Yang aku cari adalah surga
Kepada Allah  lah aku meminta

Perindu surga menapak di bumi
Menapak di negeri masa depan
Dalam logika tertinggalkan
Sepi jalan ke sana
Jarang manusia menapaki jejak-jejakya

Pagi


Pagi
            karya Abu Syifa
Pagi datang lagi
Mimpi tadi malam buruk sekali
Aku menangis dalam mimpiku
Karena betapa sedihnya hati dengan peristiwa buruk dalam mimpi itu

Kesedihan datang
Mudah-mudahan tidak pagi ini
Mudah-mudahan tidak pagi esok
Mudah-mudahan tidak pagi lusa, dan pagi lainnya

Pagi kembali berseri
Tantangan baru datang
Masalah baru datang
Harapan baru juga menampakkan wajah cerianya

Surga aku mencarimu
Pagi ini langkahku kepadamu

Dunia aku mencarimu untuk membeli surga
Bagaimana aku membuang dunia sedang dunia itu aku di sana
Yang ada aku menggenggam dunia untuk kujual membeli surga
Bagi diriku
Bagi kedua orang tuaku
Bagi anak istriku
Bagi sanak saudaraku
Bagi orang orang yang aku cintai

Pagi datang dengan kesejukan dan harapan
Semoga Ia kuatkan aku menapak jalan menuju satu langkah
Hamba


Medan, 29032012

Aku ajak keluargaku ke surga


Aku ajak keluargaku ke surga
                  Karya Abu Syifa
Aku ajak diriku ke surga
Aku ajak anak istriku ke surga
Aku ajak kedua orang tuaku ke surga
Aku ajak adik kakakku ke surga

Tidak mudah

Tidak mudah mengajak diriku
Tak peduli
Pura lupa
Lalai
Tidak disiplin, tidak komitmen
Hanya sebatas harapan, baru

Tidak mudah
Tantangan
Perlawanan

Haaaa…..h

Sepanjang nafasku


Padang, 31 03 2012